Pernahkah dalam satu waktu dalam hidup kita, kita merasa bertemu dengan jodoh kita?Yogyakarta, 29 Mei 2013
Jodoh tentu saja tidak hanya tentang perkara seseorang yang akan menjadi pasangan hidup kita, lebih luas dari itu jodoh adalah teman baik, keluarga dekat, dan orang-orang dimuka bumi ini yang ditakdirkan bertemu dengan kita pada suatu ketika dan menyentuh perasaan kita dengan persahabatan, dengan kebaikan, dan dengan apapun yang membuat kita merasa nyaman berada di dekat mereka.
Pernah satu kali dalam kesempatan hidup, aku bertemu seseorang yang sama sekali tak pernah aku kenal. Mengenal sebentar dan kemudian aku merasa seperti menemukan diriku sendiri pada dirinya.
Ini seperti ketika kita bercermin, kita menemukan diri kita sendiri pada sisi yang berlawanan. Memperlihatkan apa yang sebenarnya tampak dalam diri kita. Lebih dari itu, kita mengetahui pikiran orang dalam cermin karena memang dialah diri kita.
Masing-masing kita memang diciptakan dalam kehilangan, hidup adalah sebuah pencarian yang panjang. Pencarian kepingan-kepingan diri kita yang hilang tercecer dan berada pada orang lain.
Kadang kita mengenal diri kita sendiri justru dari orang lain. Kadang kita justru melihat diri kita ada pada orang lain. Bagi yang menemukan pasangan hidup, dia justru merasa utuh ketika berdua, bukan ketika seorang diri.
Hidup adalah sebuah pencarian diri sendiri, kita akan selalu membutuhkan orang lain untuk melengkapi cerita kita masing-masing. Itulah jodoh kita. Orang-orang yang melengkapi cerita kita menjadi utuh. Yang memperkenalkan diri kita kepada kita sendiri.
Aku pun begitu, aku mengenal diriku sendiri justru ketika aku berusaha keras mengenalmu :)
The One Indifferent
Every words has soul, power, energy and emotional attach..
Rabu, 29 Mei 2013
Pertemuan Jodoh
Sabtu, 30 Juni 2012
Unreasonable
“I love writing,” ujarku padamu.
“Why?” kau bertanya.
“Karena ak… karena..karena…”jawabku terbata.
“Karena apa?”
Sejenak diam menyela diantara kita.
“Sudah maghrib. Ayo shalat,”ajakmu membuyarkan lamunan.
Aku tak pernah berpikir mengapa aku menulis. Yang aku tahu, aku menyukainya. Yang aku tahu, aku hanya melakukannya. Tak pernah ada alasan, mengapa aku menulis.
Pertanyaan sederhanamu senja itu, membuatku tenggelam dalam tanya.
Selama apapun aku berpikir dan berusaha menjawab, mengapa aku menulis, tak satupun kutemukan jawabnya.
Ia bukan persamaan fisika-matematika yang akan menghasilkan koefisien dan variable yang pasti.
Ia juga bukan campuran senyawa yang menghasilkan reaksi.
Yang aku tahu, semakin aku bersikeras menemukan jawabnya, maka akan semakin kabur jawaban yang kutemukan dalam diriku.
Yang aku tahu, detak jantungku semakin kencang saat aku tenggelam dalam kata, seperti yang akau rasakan bersama kedatanganmu, saat berdiri dibalik punggungmu, berbicara bersamamu.
Yang aku tahu, aku menyukainya. Hanya itu.
Tak beralasan. Tak ada alasan. Namun, aku menyukainya. Seperti aku menyukaimu.
Menulis adalah lentera. Ia menerangi gelapku.
Menulis bagiku seperti air. Ia mengalir begitu saja. Menenangkan gejolakku, menyejukkan dahagaku.
Menulis membuatku mampu berbicara pada kediaman.
Menulis membuatku mampu tertawa dalam duka.
Menulis membuatku memiliki duniaku sendiri.
Menulis membuatku menjadi siapapun yang aku mau.
Menulis membuatku menemukanmu dalam tenang.
Menulis membuatku berbagi.
Menulis membuatku bermimpi.
Menulis membuatku mengucapkan apa yang tak terucapkan.
Menulis mampu membuatku mampu
Saat yang lainnya tak mampu
Esoknya..
“I love writing,” ujarku padamu.
“Why?” kau bertanya.
“Karena aku memang menyukainya. Seperti aku menyukaimu. Seperti apa yang pernah kau rasakan padaku, yang membuatmu datang dan memintaku. Aku mencintai menulis seperti aku mencintaimu.”
Sejenak diam menyela diantara kita. Kau tersenyum. Sederhana. Sangat sederhana.
Itulah alasanku mencintaimu. Kesederhanaanmu. Yang menjadi keistimewaanmu.
Mungkin itu pula alasanku mencintai menulis. Sederhana, yang istimewa.
Senja perlahan menggantung di langit. Turun bersama nada tak terdengar kecuali oleh kita.
“Sudah maghrib. Ayo shalat,”ajakmu membuyarkan lamunan. Aku mengangguk dan tersenyum.
“Why?” kau bertanya.
“Karena ak… karena..karena…”jawabku terbata.
“Karena apa?”
Sejenak diam menyela diantara kita.
“Sudah maghrib. Ayo shalat,”ajakmu membuyarkan lamunan.
Aku tak pernah berpikir mengapa aku menulis. Yang aku tahu, aku menyukainya. Yang aku tahu, aku hanya melakukannya. Tak pernah ada alasan, mengapa aku menulis.
Pertanyaan sederhanamu senja itu, membuatku tenggelam dalam tanya.
Selama apapun aku berpikir dan berusaha menjawab, mengapa aku menulis, tak satupun kutemukan jawabnya.
Ia bukan persamaan fisika-matematika yang akan menghasilkan koefisien dan variable yang pasti.
Ia juga bukan campuran senyawa yang menghasilkan reaksi.
Yang aku tahu, semakin aku bersikeras menemukan jawabnya, maka akan semakin kabur jawaban yang kutemukan dalam diriku.
Yang aku tahu, detak jantungku semakin kencang saat aku tenggelam dalam kata, seperti yang akau rasakan bersama kedatanganmu, saat berdiri dibalik punggungmu, berbicara bersamamu.
Yang aku tahu, aku menyukainya. Hanya itu.
Tak beralasan. Tak ada alasan. Namun, aku menyukainya. Seperti aku menyukaimu.
Menulis adalah lentera. Ia menerangi gelapku.
Menulis bagiku seperti air. Ia mengalir begitu saja. Menenangkan gejolakku, menyejukkan dahagaku.
Menulis membuatku mampu berbicara pada kediaman.
Menulis membuatku mampu tertawa dalam duka.
Menulis membuatku memiliki duniaku sendiri.
Menulis membuatku menjadi siapapun yang aku mau.
Menulis membuatku menemukanmu dalam tenang.
Menulis membuatku berbagi.
Menulis membuatku bermimpi.
Menulis membuatku mengucapkan apa yang tak terucapkan.
Menulis mampu membuatku mampu
Saat yang lainnya tak mampu
Esoknya..
“I love writing,” ujarku padamu.
“Why?” kau bertanya.
“Karena aku memang menyukainya. Seperti aku menyukaimu. Seperti apa yang pernah kau rasakan padaku, yang membuatmu datang dan memintaku. Aku mencintai menulis seperti aku mencintaimu.”
Sejenak diam menyela diantara kita. Kau tersenyum. Sederhana. Sangat sederhana.
Itulah alasanku mencintaimu. Kesederhanaanmu. Yang menjadi keistimewaanmu.
Mungkin itu pula alasanku mencintai menulis. Sederhana, yang istimewa.
Senja perlahan menggantung di langit. Turun bersama nada tak terdengar kecuali oleh kita.
“Sudah maghrib. Ayo shalat,”ajakmu membuyarkan lamunan. Aku mengangguk dan tersenyum.
Rabu, 27 Juni 2012
With or without you
Ada kisah yang ingin dibuang, ada kisah yang ingin diulang, tapi
denganmu aku tidak ingin keduanya..karena selamanya sudah terekam, dalam
memori album yang hanya Tuhan dan Kita saja yang meletakkan serpihan
nya disana....
Beberapa luka akan menyisakan bekas tanda bahwa sebuah peristiwa pernah ada. Memang tak ada lagi darah, nanah, daging yang koyak, atau kulit tersayat. Tapi jejak terlanjur terpacak dan manusia biasa tak bisa mengulang waktu untuk kembali ke masa lalu.
Benar, kita bisa melupakan saat-saat kita bersedih dan terluka, tetapi sakitnya tetap akan terkenang; dada yang perih, perasaan yang tak pernah cukup diwakilkan pada kata-kata. Barangkali sudah kering air mata, dan kita tak perlu menangis lagi, tetapi sensasi hangat yang menjalar di tebing pipi kita masih akan tetap terasa: saat-saat di mana kita jadi manusia yang lupa cara bicara.
Beberapa luka akan menyisakan bekas tanda bahwa sebuah peristiwa pernah ada. Memang tak ada lagi darah, nanah, daging yang koyak, atau kulit tersayat. Tapi jejak terlanjur terpacak dan manusia biasa tak bisa mengulang waktu untuk kembali ke masa lalu.
Benar, kita bisa melupakan saat-saat kita bersedih dan terluka, tetapi sakitnya tetap akan terkenang; dada yang perih, perasaan yang tak pernah cukup diwakilkan pada kata-kata. Barangkali sudah kering air mata, dan kita tak perlu menangis lagi, tetapi sensasi hangat yang menjalar di tebing pipi kita masih akan tetap terasa: saat-saat di mana kita jadi manusia yang lupa cara bicara.
Aku tak pernah benar-benar mengerti mengapa orang-orang merasa senang jika ada yang lebih tabah ?
Bagiku, ketabahan selalu berkesan murung atau kadang-kadang sok kuat.
Misalnya, mengapa rintik rindu harus dirahasiakan dari pohon yang
berbunga? Bukankah terlalu banyak rahasia perasaan yang tak menemukan
jawabannya menyakiti dirinya sendiri dan berpura-pura kuat dalam
ketabahan yang dibuat-buat? Haruskah selalu berkata pada diri sendiri “kamu harus kuat”
kalau kenyataannya kita tidak kuat? Haruskah kita terus-menerus
bersikap “sabar” atau “tabah” sementara wajah kita murung, langkah kita
pelan-pelan, dan mundur padahal ribuan orang lain berlari menuju masa
depan mereka dengan jiwa yang tenang dan perasaan yang riang?
Berhentilah menjadi seseorang yang menangis di bawah hujan sambil berharap agar berbagai kesedihan tersamarkan.
Dan sekarang ,aku menghadapi dua rasa sakit: Pertama, betapa tak membahagiakan aku melepas seseorang, sementara aku tahu aku begitu
mencintaimu . Kedua, aku cemburu pada apa saja
yang kau lakukan tidak bersamaku, aku sakit karena aku tak bisa berbuat
apa-apa—aku kehilangan kaki untuk berdiri di atas kehendakku sendiri.
Betapa menakutkan sekaligus menyakitkan.
Aku masih sayang kamu. Aku masih hapal kebiasaan-kebiasaanmu. Aku
masih memerhatikanmu duduk bersama teman-temanmu ,
memesan es jeruk atau minuman marimas dan mungkin segelas susu. Kalau sedang
sendirian, aku biasa memerhatikan telepon genggamku: Membaca lagi
beberapa pesan darimu yang masih kusimpan—atau berharap namamu muncul
lagi di layar dan memanggilku dengan lagu cinta kita berdua. Andai
waktu bisa diputar, aku ingin kembali menarik kata-kataku bahwa aku
tak ingin menerimamu lagi. Aku ingin memaafkanmu, memulai lagi kisah
kita yang baru: Aku ingin kita kembali dekat, tetapi semuanya sudah terlambat.
Langganan:
Postingan (Atom)