Rabu, 28 Maret 2012
Selasa, 20 Maret 2012
Kanada
Here ,I'm comingg :D Bismillah ...
Ibu kota Kanada ialah Ottawa, tempat Parlemen negara berada. Gubernur Jenderal Kanada, yang menjalankan hak istimewa pribadi yang diutus kerajaan, dan Perdana Menteri, yang merupakan kepala pemerintahan, memiliki tempat tinggal resmi di Ottawa.
Awalnya merupakan sebuah persatuan dengan bekas Kekaisaran kolonial Perancis dan Koloni Britania, Kanada merupakan sebuah Realm Commonwealth. Dia merupakan anggota pendiri PBB, Persemakmuran, dan La Francophonie. Kanada memiliki dua bahasa resmi:
- Perancis adalah bahasa mayoritas Quebec, dan banyak digunakan di New Brunswick; dan juga dipergunakan di Ontario bagian timur, utara dan barat daya; dan di komunitas tertentu di seluruh Kanada Atlantik dan Kanada Barat.
- Inggris adalah bahasa mayoritas di tempat lainnya dengan pengecualian di beberapa komunitas dan teritori Nunavut yang mayoritas populasinya berbicara Inuktitut.
Kanada memiliki 10 provinsi dan 3 territori.
Kota utama lainnya termasuk Montreal, Vancouver, dan Calgary. Lihat Daftar kota di Kanada.
Nama "Kanada" dipercaya berasal dari kata Huron-Iroquoia Kanata, berarti "desa", "permukiman", atau "kumpulan pondok"
Hupff .. akhirnya setelah sekian lama menanti . Penantian panjang untuk sebuah program pertukaran pelajar . Semoga sukses :D
Dan ini form untuk persyaratan dan sebagai macamnya ..
International Youth Exchange Program 2012– Application Guidelines
Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI) Jawa Timur
PRIVATE AND CONFIDENTIAL
Purna Caraka Muda Indonesia (PCMI) Jawa Timur
PRIVATE AND CONFIDENTIAL
IMPORTANT:
Please read the following instructions carefully before you submit the application. Incomplete
applications and late submission will not be processed. Please fill out the application form using a
computer or electric typewriter. HANDWRITING IS UNACCEPTABLE
INSTRUCTIONS
1. ASSIGNMENTS:
Attach separate paper(s), do not exceed two pages of paper A4, font Times New Roman, size 12,
space 1.5
a. What is your outstanding quality that differ you from the other?
b. Give us a practical example of how you preserve “Indonesian culture” in your daily life?
c. How this program could help you achieving your “big dream” in the future?
d. How would you like to make contribution toward the society upon the completion of the
exchange program?
2. SUBMISSION:
HARDCOPY:
• First, please submit all the documents (completed & signed application form, assignment &
copy of photo ID) in a sealed brown envelope.
• Write “Seleksi PPAN Jawa Timur Tahun 2012” in front upper-left side of the envelope.
• Please send the documents by mail, courier service or personally drop it off to:
Sekretariat PCMI Jawa Timur
d/a Dinas Kepemudaan & Keolahragaan Jawa Timur
Badan Pengembangan Kreatifitas Pemuda
Jalan Kayun No. 56
Surabaya
SOFTCOPY:
• After sending the hardcopy, please send the application form & the assignment to
pendaftaran@pcmijatim.org.
• Please write it in the SUBJECT line: “Seleksi PPAN Jawa Timur Tahun 2012 – [your name]”
• Signature is not required for the softcopy submission.
3. DEADLINES:
• All applications both hard and soft copy must be received by 27 March, 2012.
• Official announcements and other relevant information regarding the result of this selection
process shall be published in PCMI Jawa Timur website at this address
http://www.pcmijatim.org.
Pilihan
Konon, di suatu negeri yang tak diketahui namanya, para lelaki berusaha menemukan jodohnya dengan cara berjalan. Sementara para perempuan berusaha menemukan jodohnya dengan cara menunggu. Di sana, hukum yang berlaku sangat sederhana. Sebagaimana diceritakan turun-temurun selama ratusan generasi—
Setiap kali berjalan satu juta langkah, para lelaki akan menemui seorang perempuan. Di sisi lain, setiap seribu purnama penantian, para perempuan akan ditemui seorang laki-laki. Hanya ada lima kesempatan bagi masing-masing mereka. Setiap bertambah satu juta langkah dan menemui perempuan lainnya, para laki-laki tak bisa kembali ke belakang untuk menemui perempuan yang telah ia tinggalkan. Pun setiap kali bertambah seribu purnama, para perempuan tak bisa lagi memanggil laki-laki yang pernah ia tolak di seribu purnama sebelumnya. Mereka harus menentukan siapa jodohnya dalam waktu yang benar-benar tepat, sebab keterlambatan adalah malapetaka.
Ini kisah tentang seorang laki-laki yang terus berjalan… terus berjalan… dan terus berjalan…
Hingga pada saatnya ia telah menempuh sejuta langkah dan bertemulah ia dengan perempuan itu: seorang gadis baik hati yang pandai memasak. Pada pandangan pertama, si laki-laki menyukai si perempuan, begitu juga sebaliknya. Mereka berkenalan dan saling bertukar cerita. Konon, si gadis telah menunggu tiga ribu purnama untuk bertemu dengannya.
“Jadi aku bukan yang pertama?” kata si lelaki.
Si perempuan mengangguk, “Yang pertama tidak selalu yang terbaik,” katanya.
Mendengar jawaban si perempuan, laki-laki itu memutuskan untuk pergi. Perjalananku masih jauh, pikirnya.
Ia pun menempuh satu juta langkah berikutnya. Dan bertemulah ia dengan perempuan itu: gadis baik hati yang pandai memasak dan berwajah cantik.
“Mungkin kau yang akan jadi jodohku,” kata si laki-laki.
Si perempuan tersipu, tetapi memberikan jawaban yang agak mengecewakan, “Sebaiknya kita berkenalan dulu. Aku tak mau terburu-buru,” katanya, “Ini baru seribu purnama pertamaku.”
Si laki-laki yang kecewa terpaksa harus melanjutkan satu juta langkah ketiganya. Ia terkenang senyum gadis pertama, tetapi ia tak bisa kembali. Dan ia terus berjalan… terus berjalan…
“Kaukah yang akan menjadi jodohku?” Pada akhirnya laki-laki itu bertemu dengan seorang perempuan yang memang jauh lebih baik dari dua perempuan yang telah ia temui sebelumnya: seorang gadis baik hati yang pandai memasak, cantik, dan berasal dari keluarga kaya raya.
Saat si gadis mengangguk, ada miliaran bunga yang meledak jadi semesta cinta di hatinya.
Hari demi hari berlalu, mereka pun menjadi sepasang kekasih. Tahun depan mereka merencanakan sebuah pernikahan.
“Pernikahan kalian akan menjadi pernikahan paling akbar di kota ini,” kata Ayah si perempuan.
Si laki-laki yang berasal dari keluarga biasa pun harus bekerja keras untuk mewujudkan keinginan orangtua si perempuan.
“Kalau kita sudah menikah, kita akan tinggal di sebuah rumah mewah berlantai tiga. Kita akan punya kolam renang, taman belakang, dan kebun tempat kita menanam dan menumbuhkan bunga-bunga,” si perempuan berusaha menjelaskan mimpi-mimpinya.
Pada titik tertentu, si laki-laki akhirnya menyadari bahwa jodoh ternyata bukan sekadar tentang menyatukan ‘dua hati’—tetapi juga dua rumah, dua keluarga, dua mimpi, dua kenyataan, dua harapan, dan seterusnya… Cinta tak sesederhana kata-kata ‘aku cinta kamu dan dunia harus mengerti itu’, cinta adalah ‘aku cinta kamu dan karenanya aku juga harus mengerti dunia-dunia sekelilingmu’.
Satu tahun berlalu, semua rencana mendadak tak tergambarkan. Dan mimpi-mimpi jadi makin samar.
Dalam lelah, si laki-laki akhirnya harus mengucapkan kalimat yang paling tak ingin ia ucapkan, “Aku belum siap, aku perlu satu tahun lagi untuk bekerja dan menebus mimpi-mimpi kita,” katanya.
Si perempuan menggeleng, dan menangis, “Kenyataannya, aku tak bisa lagi menunggu. Aku tak bisa menunggu hingga purnama ke lima ribu.” katanya.
Tersebab keadaan, merekapun berpisah. Si laki-laki terus berjalan… terus berjalan… kali ini makin lambat karena usianya makin bertambah dan tenaganya makin berkurang. Lagi pula, patah hati telah membuatnya tak bersemangat lagi…
Sesampainya di empat juta langkah perjalanan, seorang perempuan cantik, kaya, baik hati, taat beragama, dan pandai memasak menyambutnya. “Kaulah yang aku tunggu-tunggu,” kata si perempuan.
Di sanalah pikiran itu datang: Jika semakin jauh langkah yang kutempuh perempuan yang kutemui semakin sempurna, aku akan meninggalkannya untuk menemukan perempuan lain yang lebih baik lagi.
Si laki-laki pada akhirnya pergi meninggalkan perempuan itu, ia memutuskan menempuh sejuta langkah terakhirnya, kesempatan terakhirnya… Ia ingin menemukan jodohnya yang paling sempurna.
Detik-detik pun terus berguguran, jejak-jejak tertinggal, laki-laki itu telah menjadi makin tua… Dan ternyata, pada langkah ke lima juta, tak ada lagi perempuan cantik yang menunggunya!
Kecuali sebuah makam.
“Maafkan,” demikian huruf-huruf tercetak sebagai epitaf di makam itu, “Jodoh paling sempurna yang aku tunggu ternyata bernama kematian.”
Di sanalah laki-laki itu tertawa, dalam sedihnya yang paling pilu, tanpa suara… “Maafkan,” katanya, “Jodoh paling sempurna yang kucari ternyata bernama kematian.”
Luka
Semua luka akan sembuh, tapi tidak semuanya akan hilang.
Beberapa luka akan menyisakan bekas—tanda bahwa sebuah peristiwa pernah ada. Memang tak ada lagi darah, nanah, daging yang koyak, atau kulit tersayat. Tapi jejak terlanjur terpacak dan manusia biasa tak bisa mengulang waktu untuk kembali ke masa lalu.
Benar, kita bisa melupakan saat-saat kita bersedih dan terluka, tetapi sakitnya tetap akan terkenang; dada yang perih, perasaan yang tak pernah cukup diwakilkan pada kata-kata. Barangkali sudah kering air mata, dan kita tak perlu menangis lagi, tetapi sensasi hangat yang menjalar di tebing pipi kita masih akan tetap terasa: saat-saat di mana kita jadi manusia yang lupa cara bicara.
Lalu pada saatnya kita akan tertidur, barangkali karena kelelahan. Dan ketika kita bangun, entah apa yang terjadi: dada kita sakit seperti baru saja dihantam ladam. Napas kita jadi berat, ada jerit yang menggumpal jadi sesak yang mengganjal di leher kita yang majal.
Sesungguhnya, di sanalah kita ingin sendiri: mengasingkan diri dari kebisingan, mengakrabi ruang-ruang hati milik kita masing-masing. Bukan untuk jadi pengecut: Kita ingin sendiri karena kita menyadari bahwa kita manusia biasa yang mungkin terluka.
Kita hanya ingin sendiri. Sendiri saja. Sesekali menangis tidak apa-apa. :)
Beberapa luka akan menyisakan bekas—tanda bahwa sebuah peristiwa pernah ada. Memang tak ada lagi darah, nanah, daging yang koyak, atau kulit tersayat. Tapi jejak terlanjur terpacak dan manusia biasa tak bisa mengulang waktu untuk kembali ke masa lalu.
Benar, kita bisa melupakan saat-saat kita bersedih dan terluka, tetapi sakitnya tetap akan terkenang; dada yang perih, perasaan yang tak pernah cukup diwakilkan pada kata-kata. Barangkali sudah kering air mata, dan kita tak perlu menangis lagi, tetapi sensasi hangat yang menjalar di tebing pipi kita masih akan tetap terasa: saat-saat di mana kita jadi manusia yang lupa cara bicara.
Lalu pada saatnya kita akan tertidur, barangkali karena kelelahan. Dan ketika kita bangun, entah apa yang terjadi: dada kita sakit seperti baru saja dihantam ladam. Napas kita jadi berat, ada jerit yang menggumpal jadi sesak yang mengganjal di leher kita yang majal.
Sesungguhnya, di sanalah kita ingin sendiri: mengasingkan diri dari kebisingan, mengakrabi ruang-ruang hati milik kita masing-masing. Bukan untuk jadi pengecut: Kita ingin sendiri karena kita menyadari bahwa kita manusia biasa yang mungkin terluka.
Kita hanya ingin sendiri. Sendiri saja. Sesekali menangis tidak apa-apa. :)
Senin, 19 Maret 2012
Musik Melatih Ketegasan
“Musik itu melatih ketegasan,” ucap Batara, seorang pria paruh abad yang
oleh anak-anak disebut maestronya biola.
Mmm, dalam hatiku. Aku masih belum paham dengan penjelasan lelaki yang rambut keritingnya dikucir ke belakang itu. Sekilas kulihat, pak Batara itu seperti empu pembuat keris di sinetron-sinetron atau film silat Indonesia. Aku tertawa sendiri, sekaligus kagum.
Pak Batara malam itu duduk di atas kursi besi yang terletak sekitar sepuluh meter dari kolam air mancur yang airnya saat ini tidak muncrat. Sekitar sepuluh lebih anak biola mengelilinginya.
“Mengapa aku katakan musik itu melatih ketegasan?” kata Pak Batara, seakan tahu bahwa aku dan anak-anak lain sedang mereka jawaban pertanyaan itu di benak kami masing-masing. Semuanya terdiam, menunggu kalimat lanjutan keluar dari mulut beliau.
Sementara pohon-pohon sengon yang usianya sudah ratusan tahun di samping kami pun ikut diam sambil menggugurkan beberapa helai daunnya yang tua. Musim penghujan rupanya penantian panjang bagi pohon yang mulai merangas itu.
“Ketika kalian menggesek biola, kalian harus bisa membuat keputusan dalam sepersekian detik, apakah nada biola itu satu ketuk, setengah ketuk, seperempat ketuk, atau seperenambelas ketuk,” papar beliau sambil tersenyum, tahu bahwa semua orang menunggu penjelasannya.
“Itulah yang kumaksud ketegasan. Seorang pemusik harus tegas memutuskan sepanjang apa nada yang akan dimainkannya, atau senar mana yang harus ditekan dan digesek. Karena itu, musik dapat menempa ketegasan seseorang,” ujar Pak Batara.
Semua yang berada di sana semakin jelas. Itu menjawab klaim yang salah selama ini bahwa musik membuat seorang jadi cengeng atau terlalu melankolis. Justru sebaliknya, musik akan menempa seseorang memiliki jiwa yang tegas, tentu saja, tetap peka.
Aku baru paham makna itu malam ini, saat Pak Batara memberi penjelasan rinci tentang musik. Musical Journey yang kulalui belumlah apa-apa dibandingkan dengan banyak orang lain di dunia ini. Aku mulai paham dengan berbagai filosofi tentang biola, tentang musik, tentang nada, dan terutama tentang persahabatan unik yang aku temukan di sini. Mmmm, semuanya indah….
Perbincangan itu terus berlanjut. Sesekali Pak Batara menggesek Cello-nya. Beliau mendendangkan Swan Lake melalui gesekan Cello yang tegas, namun terasa lembut di telinga kami.
Pantas Pak Batara disebut sebagai maestro biola. Ujung jarinya seakan-akan memiliki mata saat menari di antara empat senar biola saat memainku biola Johann Sebastian Bach milikku, yang lebih suka kusebut Lintang itu.
Jari-jari Pak Batara beralih cepat dari satu nada ke nada lain dalam waktu kurang dari satu detik. Dan tentu saja, jangan tanya, seindah apa Movement-nya Johann Sebastian Bach, Four Season-nya Vivaldi atau Beethoven, mengalun memenuhi udara malam .
Lampu merkuri menemani kami dengan cahayanya yang kekuningan. Beberapa kelelawar tampak terbang, meski aku tahu di sana tidak ada buah-buahan. Mungkin mereka sedang berburu nyamuk atau tertarik dengan getaran resonansi yang dihasilkan gesekan Cello dan biola anak-anak . [*]
Mmm, dalam hatiku. Aku masih belum paham dengan penjelasan lelaki yang rambut keritingnya dikucir ke belakang itu. Sekilas kulihat, pak Batara itu seperti empu pembuat keris di sinetron-sinetron atau film silat Indonesia. Aku tertawa sendiri, sekaligus kagum.
Pak Batara malam itu duduk di atas kursi besi yang terletak sekitar sepuluh meter dari kolam air mancur yang airnya saat ini tidak muncrat. Sekitar sepuluh lebih anak biola mengelilinginya.
“Mengapa aku katakan musik itu melatih ketegasan?” kata Pak Batara, seakan tahu bahwa aku dan anak-anak lain sedang mereka jawaban pertanyaan itu di benak kami masing-masing. Semuanya terdiam, menunggu kalimat lanjutan keluar dari mulut beliau.
Sementara pohon-pohon sengon yang usianya sudah ratusan tahun di samping kami pun ikut diam sambil menggugurkan beberapa helai daunnya yang tua. Musim penghujan rupanya penantian panjang bagi pohon yang mulai merangas itu.
“Ketika kalian menggesek biola, kalian harus bisa membuat keputusan dalam sepersekian detik, apakah nada biola itu satu ketuk, setengah ketuk, seperempat ketuk, atau seperenambelas ketuk,” papar beliau sambil tersenyum, tahu bahwa semua orang menunggu penjelasannya.
“Itulah yang kumaksud ketegasan. Seorang pemusik harus tegas memutuskan sepanjang apa nada yang akan dimainkannya, atau senar mana yang harus ditekan dan digesek. Karena itu, musik dapat menempa ketegasan seseorang,” ujar Pak Batara.
Semua yang berada di sana semakin jelas. Itu menjawab klaim yang salah selama ini bahwa musik membuat seorang jadi cengeng atau terlalu melankolis. Justru sebaliknya, musik akan menempa seseorang memiliki jiwa yang tegas, tentu saja, tetap peka.
Aku baru paham makna itu malam ini, saat Pak Batara memberi penjelasan rinci tentang musik. Musical Journey yang kulalui belumlah apa-apa dibandingkan dengan banyak orang lain di dunia ini. Aku mulai paham dengan berbagai filosofi tentang biola, tentang musik, tentang nada, dan terutama tentang persahabatan unik yang aku temukan di sini. Mmmm, semuanya indah….
Perbincangan itu terus berlanjut. Sesekali Pak Batara menggesek Cello-nya. Beliau mendendangkan Swan Lake melalui gesekan Cello yang tegas, namun terasa lembut di telinga kami.
Pantas Pak Batara disebut sebagai maestro biola. Ujung jarinya seakan-akan memiliki mata saat menari di antara empat senar biola saat memainku biola Johann Sebastian Bach milikku, yang lebih suka kusebut Lintang itu.
Jari-jari Pak Batara beralih cepat dari satu nada ke nada lain dalam waktu kurang dari satu detik. Dan tentu saja, jangan tanya, seindah apa Movement-nya Johann Sebastian Bach, Four Season-nya Vivaldi atau Beethoven, mengalun memenuhi udara malam .
Lampu merkuri menemani kami dengan cahayanya yang kekuningan. Beberapa kelelawar tampak terbang, meski aku tahu di sana tidak ada buah-buahan. Mungkin mereka sedang berburu nyamuk atau tertarik dengan getaran resonansi yang dihasilkan gesekan Cello dan biola anak-anak . [*]
My dreams
Aku berjalan dengan enggan. Tubuhku gontai. Peluh deras mengucuri tubuhku.
Pikiranku terasa berat. Suara kendaraan yang menderu terus menyayat telingaku.
Mobil-mobil saling berkejaran, satu mobil melesat terdepan, kemudian disalip
mobil satunya...
Jaket lusuh yang kukenakan perlahan kulepaskan. Gedung pencakar langit
masih terpaku disana. Mereka seakan mencaciku sebagai orang yang tidak berguna.
Kulihat bola lampu yang ada di trotoar terus dipermainkan oleh angin. Mereka
semua mengejeku. Angin yang bercampur polusi jalanan terus saja mengahampiriku.
Ia tidak mengabarkan tentang kegembiraan. Melainkan menyampaikan gelombang
udara yang memekakan telingaku.
Gelombang udara itu tak henti-hentinya menghantuiku. Suara yang diam-diam
menyusup di telingaku pun menjalar di pikiranku. Suara itu datang dengan
bertubi-tubi. Suara itu, yang membuatku putus asa. Patah semangat. Mengabarkan
padaku untuk diam terpaku. Ya, suara itu bertubi-tubi mencabik-cabik hatiku.
Bersamaan dengan menyelinapnya suara itu di telingaku, aku menyapu lingkungan
sekitar. Malam itu begitu kelabu,dibarengi hujan deras yang menguyur tubuhku .
Rumput liar hijau yang menjadi taman jalanan, dan semua pohon, diam-diam
menggeliat membuka tunas-tunasnya. Hari ini, aku nyaris bisa merasakan itu
dalam tubuhku sendiri, menjalarnya getah dalam pohon-pohon besar, ke atas,
terus naik, naik, naik, hingga ke ujung, sampai disana mendesak ke dalam
daun-daun pohon kecil, seakan tampak merah matang seperti darah.
Kulihat alam begitu bersahabat dengan suara itu. Kudengar kicauan
burung yang sedari tadi mengejeku, pun bersahabat dengan suara itu. Kau mau
tahu suara apa yang kudengar itu? Ah, rasanya tidak perlu diceritakan. Lidahku
tidak kuat menceritakannya padamu. Mungkin suara itu sangat lihai
menyembunyikan kegetirannya. Ia terkadang menjelma menjadi deretan kata.
Deretan kata-kata yang dianyam menjadi sebuah kalimat. Kalimat yang, jika
dibaca, akan terdengar menyayat di indera pendengaran. Seperti berjuta-juta
manusia lain di negeri ini, kini aku pun termasuk orang yang terkena imbas suara
itu.
Tapi sekarang satu cambuk penyemangatku sudah pergi ,yang awalnya
menjadi yang terkuat dikota rantau ini . Yah ,mungkin aku hanya terlihat
main-main saja selama ini . Biarlah .. biar ku jaga sendiri mimpi mimpi itu ..
Akan ku sematkan segera papa ,mama .
Mimpiku masih ku bawa ,kugenggam,dan masih aku letakkan 5cm di depan dahiku.
Mimpiku masih ku bawa ,kugenggam,dan masih aku letakkan 5cm di depan dahiku.
AKAN KU BUKTIKAN ! MOVE ON FI ,COME ON !
Mereka yang mencacimu boleh tak percaya ,tapi kamu harus tetap
bergerak .
La haulawalla quwwata illabillahi alihiladzim ..
Let's
Cintamu awalnya bisa tergarkanku bila kamu percayakan hatimu
padaku . Itu awal dulu sekali ,setahun lebih kemarin . kini aku sudah jauh darimu .
sudikah kau hapus airmata tertumpah saat aku lemah sekarang ? mungkinkah aku
peroleh jawabmu ? mungkinkah aku dengar jawabmu dari hati terdalam ..? sanggupkah
aku ? sanggupkah aku tak bersamamu ?
tolong jangan buatku menangis lagi ..
tolong jangan buatku menangis lagi ..
Sudah terlalu dalam rasaku ..
Padahal bukan untuk sembarang hati aku berikan .. hupff ...
Malam itu dengan segenap rasa kecewa .. kamu pergi ,sudah
tidak ada lagi yang bisa dikenang.
Sudah tidak ada alasan lagi buatku ..
Sudahlah .. apalah arti cinta bila aku sudah tak ada artinya
lagi
Apalah artinya cinta bila sudah tak menyatu ..
sesulit ini kah ?
sesulit ini kah ?
Bila aku tak berujung denganmu biarlah kisah ini ku kenang
selamanya .
Tuhan tolong buang rasa cintaku ,jika tak Kau ijinkan aku
bersamanya.
Mungkin ini saatnya aku harus melepaskan dirimu ..
Langganan:
Postingan (Atom)







