Aku berjalan dengan enggan. Tubuhku gontai. Peluh deras mengucuri tubuhku.
Pikiranku terasa berat. Suara kendaraan yang menderu terus menyayat telingaku.
Mobil-mobil saling berkejaran, satu mobil melesat terdepan, kemudian disalip
mobil satunya...
Jaket lusuh yang kukenakan perlahan kulepaskan. Gedung pencakar langit
masih terpaku disana. Mereka seakan mencaciku sebagai orang yang tidak berguna.
Kulihat bola lampu yang ada di trotoar terus dipermainkan oleh angin. Mereka
semua mengejeku. Angin yang bercampur polusi jalanan terus saja mengahampiriku.
Ia tidak mengabarkan tentang kegembiraan. Melainkan menyampaikan gelombang
udara yang memekakan telingaku.
Gelombang udara itu tak henti-hentinya menghantuiku. Suara yang diam-diam
menyusup di telingaku pun menjalar di pikiranku. Suara itu datang dengan
bertubi-tubi. Suara itu, yang membuatku putus asa. Patah semangat. Mengabarkan
padaku untuk diam terpaku. Ya, suara itu bertubi-tubi mencabik-cabik hatiku.
Bersamaan dengan menyelinapnya suara itu di telingaku, aku menyapu lingkungan
sekitar. Malam itu begitu kelabu,dibarengi hujan deras yang menguyur tubuhku .
Rumput liar hijau yang menjadi taman jalanan, dan semua pohon, diam-diam
menggeliat membuka tunas-tunasnya. Hari ini, aku nyaris bisa merasakan itu
dalam tubuhku sendiri, menjalarnya getah dalam pohon-pohon besar, ke atas,
terus naik, naik, naik, hingga ke ujung, sampai disana mendesak ke dalam
daun-daun pohon kecil, seakan tampak merah matang seperti darah.
Kulihat alam begitu bersahabat dengan suara itu. Kudengar kicauan
burung yang sedari tadi mengejeku, pun bersahabat dengan suara itu. Kau mau
tahu suara apa yang kudengar itu? Ah, rasanya tidak perlu diceritakan. Lidahku
tidak kuat menceritakannya padamu. Mungkin suara itu sangat lihai
menyembunyikan kegetirannya. Ia terkadang menjelma menjadi deretan kata.
Deretan kata-kata yang dianyam menjadi sebuah kalimat. Kalimat yang, jika
dibaca, akan terdengar menyayat di indera pendengaran. Seperti berjuta-juta
manusia lain di negeri ini, kini aku pun termasuk orang yang terkena imbas suara
itu.
Tapi sekarang satu cambuk penyemangatku sudah pergi ,yang awalnya
menjadi yang terkuat dikota rantau ini . Yah ,mungkin aku hanya terlihat
main-main saja selama ini . Biarlah .. biar ku jaga sendiri mimpi mimpi itu ..
Akan ku sematkan segera papa ,mama .
Mimpiku masih ku bawa ,kugenggam,dan masih aku letakkan 5cm di depan dahiku.
Mimpiku masih ku bawa ,kugenggam,dan masih aku letakkan 5cm di depan dahiku.
AKAN KU BUKTIKAN ! MOVE ON FI ,COME ON !
Mereka yang mencacimu boleh tak percaya ,tapi kamu harus tetap
bergerak .
La haulawalla quwwata illabillahi alihiladzim ..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar