“Musik itu melatih ketegasan,” ucap Batara, seorang pria paruh abad yang
oleh anak-anak disebut maestronya biola.
Mmm,
dalam hatiku. Aku masih belum paham dengan penjelasan lelaki yang
rambut keritingnya dikucir ke belakang itu. Sekilas kulihat, pak Batara
itu seperti empu pembuat keris di sinetron-sinetron atau film silat
Indonesia. Aku tertawa sendiri, sekaligus kagum.
Pak Batara malam
itu duduk di atas kursi besi yang terletak sekitar sepuluh meter dari
kolam air mancur yang airnya saat ini tidak muncrat. Sekitar sepuluh
lebih anak biola mengelilinginya.
“Mengapa aku katakan
musik itu melatih ketegasan?” kata Pak Batara, seakan tahu bahwa aku dan
anak-anak lain sedang mereka jawaban pertanyaan itu di benak
kami masing-masing. Semuanya terdiam, menunggu kalimat lanjutan keluar
dari mulut beliau.
Sementara pohon-pohon sengon yang usianya
sudah ratusan tahun di samping kami pun ikut diam sambil menggugurkan
beberapa helai daunnya yang tua. Musim penghujan rupanya penantian
panjang bagi pohon yang mulai merangas itu.
“Ketika kalian
menggesek biola, kalian harus bisa membuat keputusan dalam sepersekian
detik, apakah nada biola itu satu ketuk, setengah ketuk, seperempat
ketuk, atau seperenambelas ketuk,” papar beliau sambil tersenyum, tahu
bahwa semua orang menunggu penjelasannya.
“Itulah yang kumaksud
ketegasan. Seorang pemusik harus tegas memutuskan sepanjang apa nada
yang akan dimainkannya, atau senar mana yang harus ditekan dan digesek.
Karena itu, musik dapat menempa ketegasan seseorang,” ujar Pak Batara.
Semua
yang berada di sana semakin jelas. Itu menjawab klaim yang salah selama
ini bahwa musik membuat seorang jadi cengeng atau terlalu melankolis.
Justru sebaliknya, musik akan menempa seseorang memiliki jiwa yang
tegas, tentu saja, tetap peka.
Aku baru paham makna itu malam
ini, saat Pak Batara memberi penjelasan rinci tentang musik. Musical
Journey yang kulalui belumlah apa-apa dibandingkan dengan banyak orang
lain di dunia ini. Aku mulai paham dengan berbagai filosofi tentang
biola, tentang musik, tentang nada, dan terutama tentang persahabatan
unik yang aku temukan di sini. Mmmm, semuanya indah….
Perbincangan
itu terus berlanjut. Sesekali Pak Batara menggesek Cello-nya. Beliau
mendendangkan Swan Lake melalui gesekan Cello yang tegas, namun terasa
lembut di telinga kami.
Pantas Pak Batara disebut sebagai maestro
biola. Ujung jarinya seakan-akan memiliki mata saat menari di antara
empat senar biola saat memainku biola Johann Sebastian Bach milikku,
yang lebih suka kusebut Lintang itu.
Jari-jari Pak Batara beralih
cepat dari satu nada ke nada lain dalam waktu kurang dari satu detik.
Dan tentu saja, jangan tanya, seindah apa Movement-nya Johann Sebastian
Bach, Four Season-nya Vivaldi atau Beethoven, mengalun memenuhi udara malam .
Lampu merkuri menemani kami dengan cahayanya
yang kekuningan. Beberapa kelelawar tampak terbang, meski aku tahu di
sana tidak ada buah-buahan. Mungkin mereka sedang berburu nyamuk atau
tertarik dengan getaran resonansi yang dihasilkan gesekan Cello dan
biola anak-anak . [*]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar