Rabu, 27 Juni 2012

With or without you

Ada kisah yang ingin dibuang, ada kisah yang ingin diulang, tapi denganmu aku tidak ingin keduanya..karena selamanya sudah terekam, dalam memori album yang hanya Tuhan dan Kita saja yang meletakkan serpihan nya disana....
Beberapa luka akan menyisakan bekas tanda bahwa sebuah peristiwa pernah ada. Memang tak ada lagi darah, nanah, daging yang koyak, atau kulit tersayat. Tapi jejak terlanjur terpacak dan manusia biasa tak bisa mengulang waktu untuk kembali ke masa lalu.

Benar, kita bisa melupakan saat-saat kita bersedih dan terluka, tetapi sakitnya tetap akan terkenang; dada yang perih, perasaan yang tak pernah cukup diwakilkan pada kata-kata. Barangkali sudah kering air mata, dan kita tak perlu menangis lagi, tetapi sensasi hangat yang menjalar di tebing pipi kita masih akan tetap terasa: saat-saat di mana kita jadi manusia yang lupa cara bicara.


Aku tak pernah benar-benar mengerti mengapa orang-orang merasa senang jika ada yang lebih tabah ?
Bagiku, ketabahan selalu berkesan murung atau kadang-kadang sok kuat. Misalnya, mengapa rintik rindu harus dirahasiakan dari pohon yang berbunga? Bukankah terlalu banyak rahasia perasaan yang tak menemukan jawabannya menyakiti dirinya sendiri dan berpura-pura kuat dalam ketabahan yang dibuat-buat? Haruskah selalu berkata pada diri sendiri “kamu harus kuat” kalau kenyataannya kita tidak kuat? Haruskah kita terus-menerus bersikap “sabar” atau “tabah” sementara wajah kita murung, langkah kita pelan-pelan, dan mundur padahal ribuan orang lain berlari menuju masa depan mereka dengan jiwa yang tenang dan perasaan yang riang? 
Berhentilah menjadi seseorang yang menangis di bawah hujan sambil berharap agar berbagai kesedihan tersamarkan.

Dan sekarang ,aku menghadapi dua rasa sakit: Pertama, betapa tak membahagiakan aku melepas seseorang, sementara aku tahu aku begitu mencintaimu . Kedua, aku cemburu pada apa saja yang kau lakukan tidak bersamaku, aku sakit karena aku tak bisa berbuat apa-apa—aku kehilangan kaki untuk berdiri di atas kehendakku sendiri. Betapa menakutkan sekaligus menyakitkan.
Aku masih sayang kamu. Aku masih hapal kebiasaan-kebiasaanmu. Aku masih memerhatikanmu duduk bersama teman-temanmu , memesan es jeruk atau minuman marimas dan mungkin segelas susu. Kalau sedang sendirian, aku biasa memerhatikan telepon genggamku: Membaca lagi beberapa pesan darimu yang masih kusimpan—atau berharap namamu muncul lagi di layar dan memanggilku dengan lagu cinta kita berdua. Andai waktu bisa diputar, aku ingin kembali menarik kata-kataku bahwa aku tak ingin menerimamu lagi. Aku ingin memaafkanmu, memulai lagi kisah kita yang baru: Aku ingin kita kembali dekat, tetapi semuanya sudah terlambat.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar