Kau masa lalu, -bukan
musuh-
Tapi kau selalu punya peluru untuk mengoyak ; memporak poradakan kenangan haru biru,
Kau juga pengecut, yang bisanya hanya diam-diam menyakiti... berpura-pura kuat, padahal bendera putih selalu siap berkobar untuk menyerah. . menyerah untuk berpura-pura membenciku..
Tapi kau selalu punya peluru untuk mengoyak ; memporak poradakan kenangan haru biru,
Kau juga pengecut, yang bisanya hanya diam-diam menyakiti... berpura-pura kuat, padahal bendera putih selalu siap berkobar untuk menyerah. . menyerah untuk berpura-pura membenciku..
Kita apa? Kita siapa?
Aku, kau..apa dan siapa?
Aku selalu diam saat kau cerca, kau tahu kenapa?
Biar aku. kamu. dan Tuhan saja yang tahu bagaimana intimnya kita . . .
Aku selalu diam saat kau cerca, kau tahu kenapa?
Biar aku. kamu. dan Tuhan saja yang tahu bagaimana intimnya kita . . .
Aku menunggumu menguak
fakta, -seputar- cerita klasik yang pernah hidup dan susah hengkang memorinya,
aku tahu tapi diam... Kaget, pasti! Karena apa yang aku duga, sama persis
dengan apa yang kau puisikan senja tadi, Jingga masih kuasa menutup raut masamku,
tapi kabut emasnya tak mampu redam tangis yang sewaktu-waktu bisa pecah. . dan
aku ling.lung...
Berterimakasihlah kepada
kesedihan dan air mata karena bersamanya kita belajar kekuatan yang sempurna.
sebuah lingkaran tidak harus bulat penuh seperti halnya garis tidak selalu
lurus. dan senja akan menjadi Elegi. Kembali.
Aku mencari cara agar
kesedihan tetap pada tempatnya; di ujung paling sepi dari hati. Kalau perlu
Tuhan pun tidak boleh menemukannya... Aku telah mencoba untuk mencincang air
mata dan dogmaku hanya tawa yang berhak tinggal...
Aku masih bertanya-tanya,
apakah menerima kenyataan yang pahit itu rasanya lebih sakit dari mengalami
sakaratul maut? yang dicabut perlahan tapi menyakitkan, halus tapi perih,
tertatih tapi berbekas.. -atau- rasanya lebih sakit dari sakaratul
maut-mati-lalu hidup lagi -sakaratul maut-mati-hidup-hingga tujuh kali
jumlahnya seperti itu... aku masih bertanya-tanya, kenapa mereka yang frustasi
lebih memilih sakit untuk sekarat mati ketimbang sakit saat menerima kenyataan
hidup yang pahit...
aku hanya belum siap
menerima kenyataan yang telah diskenariokan oleh Tuhan , yang makin lama
membuat lelah dan kelu untuk merasa..
aku hanya butuh waktu untuk tidak terpuruk dan terkapar...
aku hanya butuh waktu untuk tidak terpuruk dan terkapar...
Aku memilih untuk
mencapai akhir dari penghujung batas jiwa, yang tidak bisa dibedakan antara:
pasrah dengan marah..
Padahal, aku masih berhak untuk kecewa yang berujung merusak diri sendiri... Aku masih ngilu dihujam berkali-kali ditempat yang sama...Sungguh, aku lelah dalam diam....
Padahal, aku masih berhak untuk kecewa yang berujung merusak diri sendiri... Aku masih ngilu dihujam berkali-kali ditempat yang sama...Sungguh, aku lelah dalam diam....
Dan aku ingin
mengasingkan diri, sejenak...
untuk menutupi lelah leleh luluran kristal air yang luluh lantak..
Juni, aku harus menangis kembali..
karena kerinduanku .
untuk menutupi lelah leleh luluran kristal air yang luluh lantak..
Juni, aku harus menangis kembali..
karena kerinduanku .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar