Dulu, dulu sekali kami sering mendiskusi tentang jarak yang begitu absurd antara nyata dan maya. Seperti bayang dalam cermin, memantul pada fokus maya atau nyata. Kali ini, untuk kesekian kalinya aku jadi terhipnotis akan asumsi yang belum terverifikasi itu. Antara maya dan nyata berbatas pada sebuah garis absurd.
Kupikir keduanya berbeda. Loginya memang hal itu berbeda. Namun dalam maya kutemui nyata. Pun dalam nyata kujumpai pula maya. Ah, kalian seperti sekeping koin yang tak bisa dipisahkan. Maya. Nyata. Maya. Nyata. Absurd.
Suatu hari teman lama bertutur tentang maya dan nyata. Kami sempat mengikuti riak perjalanan ini. Dia menciptakan sensasi maya dalam dunia nyata. Tentang barista, apa kau ingat, ? Kuharap. Lalu melajulah bersama waktu hingga batas tak berujung. Entah kapan maya yang ia ciptakan akan kembali nyata. Entahlah, tanyakan saja pada Tuhan.
Kisah lain, tentang maya yang ingin menjadi nyata. Sekilas kusimpulkan bahwa tak perlu bersusah payah mengubah maya menjadi nyata. Garis mereka terlalu tipis. Seperti maya yang kudapati nyata. Benarkah hipotesisku bahwa tak ada batas. Semuanya bertumpu di batas yang tak berujung.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar