Sabtu, 30 Juni 2012

Unreasonable

“I love writing,” ujarku padamu.
“Why?” kau bertanya.
“Karena ak… karena..karena…”jawabku terbata.
“Karena apa?”
Sejenak diam menyela diantara kita.
“Sudah maghrib. Ayo shalat,”ajakmu membuyarkan lamunan.

Aku tak pernah berpikir mengapa aku menulis. Yang aku tahu, aku menyukainya. Yang aku tahu, aku hanya melakukannya. Tak pernah ada alasan, mengapa aku menulis.
Pertanyaan sederhanamu senja itu, membuatku tenggelam dalam tanya.

Selama apapun aku berpikir dan berusaha menjawab, mengapa aku menulis, tak satupun kutemukan jawabnya.
Ia bukan persamaan fisika-matematika yang akan menghasilkan koefisien dan variable yang pasti.
Ia juga bukan campuran senyawa yang menghasilkan reaksi.
Yang aku tahu, semakin aku bersikeras menemukan jawabnya, maka akan semakin kabur jawaban yang kutemukan dalam diriku.
Yang aku tahu, detak jantungku semakin kencang saat aku tenggelam dalam kata, seperti yang akau rasakan bersama kedatanganmu, saat berdiri dibalik punggungmu, berbicara bersamamu.
Yang aku tahu, aku menyukainya. Hanya itu.
Tak beralasan. Tak ada alasan. Namun, aku menyukainya. Seperti aku menyukaimu.

Menulis adalah lentera. Ia menerangi gelapku.
Menulis bagiku seperti air. Ia mengalir begitu saja. Menenangkan gejolakku, menyejukkan dahagaku.
Menulis membuatku mampu berbicara pada kediaman.
Menulis membuatku mampu tertawa dalam duka.
Menulis membuatku memiliki duniaku sendiri.
Menulis membuatku menjadi siapapun yang aku mau.
Menulis membuatku menemukanmu dalam tenang.
Menulis membuatku berbagi.
Menulis membuatku bermimpi.
Menulis membuatku mengucapkan apa yang tak terucapkan.
Menulis mampu membuatku mampu
Saat yang lainnya tak mampu

Esoknya..
“I love writing,” ujarku padamu.
“Why?” kau bertanya.
“Karena aku memang menyukainya. Seperti aku menyukaimu. Seperti apa yang pernah kau rasakan padaku, yang membuatmu datang dan memintaku. Aku mencintai menulis seperti aku mencintaimu.”

Sejenak diam menyela diantara kita. Kau tersenyum. Sederhana. Sangat sederhana.
Itulah alasanku mencintaimu. Kesederhanaanmu. Yang menjadi keistimewaanmu.
Mungkin itu pula alasanku mencintai menulis. Sederhana, yang istimewa.

Senja perlahan menggantung di langit. Turun bersama nada tak terdengar kecuali oleh kita.

“Sudah maghrib. Ayo shalat,”ajakmu membuyarkan lamunan. Aku mengangguk dan tersenyum.

1 komentar:

  1. I love writing :)

    My new entry. http://irfanhanaffi.blogspot.com/2013/01/abang-fan-nak-kenalkan-diri-cerita-penuh.html

    Come join me.......

    BalasHapus